February 20, 2008
Ego vs Kesadaran
Karena berdosa Adam & Eva menyadari bahwa mereka menjadi lemah, yaitu bahwa jasmani mereka (baca: ego) lebih menguasai diri mereka (baca: kesadaran), yang digambarkan dengan mereka melihat bahwa mereka menjadi telanjang.
Manusia boleh menikmanti sesuai dorongan nafsu (ego) yang ada padanya, tetapi terbatas. Kelemahan karena dosa itu terletak pada dominasi jasmani (ego) terhadap rohnya (kesadaran), sehingga keluar batas. (Bdk. Rom.8:6-7).
Karena itu dalam menghidupi hidup kita di dunia ini kita harus melatih diri, agar dorongan roh (kesadaran) yang nyata daam cinta kasih lebih menguasai perilaku dan perbuatan kita daripada dorongan jasmani yang wujud nyatanya dorongan nafsu (ego). Kita tidak harus membunuh nafsu-nafsu kita secara radikal, karena nafsu (ego) adalah bagian dari diri kita. Tapi sadarilah bahwa kita memiliki nafsu (ego) dan sadarilah ketika nafsu (ego) itu muncul.
Dengan menyadari setiap saat ketika nafsu (ego) itu muncul maka kita akan dapat mengendalikan nafsu (ego).
Nasihat “Berhentilah makan sebelum kenyang” bila dijalankan akan menjadi sebuah proses hidup meditatif yang meningkatkan kesadaran dan menekan ego, pesan itu mengajak kita untuk senantiasa sadar. Seringkali ketika dalam pesta / acara perjamuan dan menghadapi begitu banyak makanan enak kita terlena dan makan terus tanpa henti sehingga akhirnya makan berlebih. Bila kita sadar sewaktu makan dan ketika kita sudah makan untuk memenuhi kebutuhan maka seharusnya kita berhenti, dengan begitu jasmani (ego) tidak akan bisa menyuruh kita untuk makan terus.
Ada tertulis “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” Memang untuk hidup badan membutuhkan makanan, tapi yang menghidupkan itu Allah.
Makan untuk hidup bukan hidup untuk makan dan mencari kepuasannya, karena orang mau hidup maka orang mau makan jamu yang sangat pahit sekalipun.
Ajakan berpuasa dan berpantang adalah ajakan untuk melatih diri meningkatkan kesadaran dan mengendalikan ego. Ego tidak dapat dihapus karena merupakan bagian dari diri kita namun melalui kesadaran kita dapat mengendalikan ego.
Artikel ini dikembangkan dari
Berita Minggu Gereja Katolik St. Yakobus Kelapa Gading edisi 9-10 Februari 2008.
Popularity: 6% [?]
Related Posts




